Minggu , 20 Agustus 2017
Home / Dakwah / Sepotong Nasihat Dari Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid – Hambatan-Hambatan Dakwah

Sepotong Nasihat Dari Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid – Hambatan-Hambatan Dakwah

hambatan-hambatan-dakwahSepekan terakhir ini saya meletakkan buku-buku fiksi, dan beberapa buku nonfiksi non tarbiyah saya, dan beralih membaca kembali buku-buku tarbiyah yang tersimpan di kamar mungil di bagian paling belakang rumah saya. Buku-buku itu memang sengaja saya pisahkan dengan buku-buku yang bersifat umum, terutama fiksi, yang saya letakkan di lemari buku yang ada di ruang tamu. Memisahkan buku-buku manhaj tarbiyah dengan buku-buku umum semata-mata untuk memberikan saya privasi yang lebih intens ketika saya menyendiri di kamar mungil tersebut ketika istri dan anak-anak saya sudah terlelap.

Salah satu buku yang saya pilih untuk kembali saya baca adalah buku yang berjudul Hambatan-Hambatan Dakwah karya Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid. Buku berjudul asli Al Awa’iq itu diterbitkan oleh Rabbani dan merupakan salah satu buku panduan yang sangat perlu, kalau tidak bisa dibilang harus, untuk dibaca, dihayati, dan diamalkan oleh para dai dan daiyah para aktivis dakwah. Kalau mau diingat-ingat, kali pertama saya membaca buku ini adalah ketika masih kuliah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu di sebuah toko buku yang terletak di dalam komplek masjid kampus, Toko Buku Fatahillah, saya membolak-balikkan halaman buku ini selepas menunaikan shalat di masjid yang terletak tidak jauh dari situ.

Buku yang sampulnya bergambar siluet dua orang yang sedang berjalan di padang pasir dengan latar belakang langit biru berawan putih itu saya baca perlahan-lahan. Saya membaca bagian sinopsisnya, membuka daftar isinya – bukunya memang tidak disegel, dan menekuri kata-kata Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid yang mengalun indah. Salah satu kekuatan dari buku ini adalah cara menarasikan nasihat Syaikh Ar Rasyid yang mampu membuat para pembacanya tersentak lalu luruh dalam perenungan yang mendalam. Bahasanya begitu halus, namun menohok relung jiwa yang lalai sehingga ia langsung bangkit dan berlepas diri dari kelalaiannya. Pengambilan sudut pandang orang ke pertama yang dilakukan oleh Syaikh Rasyid ketika menulis, membuat buku ini terasa akrab. Pergulatan yang panjang dan intens antara Syaikh Ar Rasyid dengan jamaah dakwah Al Ikhwan Al Muslimin membuat buku ini terasa dekat dan aktual, meski berbilang tahun telah berlalu. Benar-benar buku yang indah.

Tak terasa, nyaris setengah jam saya membaca buku yang sangat bermutu tersebut. Saya lalu bertekad dalam hati bahwa suatu hari nanti, jika ada rejeki yang cukup, saya akan membeli dan memilikinya. Sebuah tekad yang baru bertemu dengan takdirnya sepuluh tahun kemudian. Ya, benar. Saya akhirnya memiliki buku sepuluh tahun berselang sejak kali pertama membacanya, di tempat yang berjarak ribuan kilometer dari tempat saya kali pertama menyelami nasihat-nasihat Syaikh Rasyid yang indah itu.

Hambatan-Hambatan Dakwah merupakan bagian ke dua dari empat Serial Fikih Dakwah yang ditulis oleh Syaikh Ar Rasyid. Bagian pertamanya berjudul Al Munthalaq, yang ketiga berjudul Al Raqa’iq, dan yang terakhir berjudul Al Masar. Semua serial ini telah dirilis oleh penerbit Robbani Press sejak lama. Serial pertama, Al Munthalaq, telah diterbitkan dengan judul Titik Tolak; serial ke tiga, Al Raqa’iq, dengan judul Pelembut Hati; dan serial ke empat, Al Masar, dengan judul Khitah Dakwah.

Buku ini sangat tepat dibaca oleh mereka yang tengah mengalami kelesuan dan kebuntuan dalam berdakwah. Beratnya ujian dan cobaan, gesekan dan konflik yang terjadi di sana dan di sini, menjadi bumbu penyedap yang paling tepat dalam membersamai pembacaan buku ini. Belum lagi ketika sisi-sisi kemanusiaan para da’i bergesekan dengan kepentingan dakwah sementara saudara-saudaranya yang lain merasa bingung dan, seolah, kehilangan arah untuk menyikapinya sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang ada, buku ini menjadi semacam pelipur lara yang tepat bagi mereka.

Saya ingin menyalin kembali salah satu nasihat indah beliau yang termaktub pada bagian-bagian paling akhir buku Hambatan-Hambatan Dakwah ini yang berjudul: Pintu Yang Selalu Terbuka Bagi Setiap Pengetuk. Berikut salinannya.

“Kami tidak memungkiri adanya para pengikut atau anggota kami yang terkadang berbuat salah atau keliru dalam ucapan dan perbuatannya. Akan tetapi, kita harus memperhatikan satu poin yang sangat penting ketika menilai para anggota tersebut. Poin penting itu adalah bahwa organisasi dakwah ini bukanlah perkumpulan manusia-manusia yang sempurna (insan kamil), akan tetapi ia adalah sebuah masyarakat yang terbina (mujtama’ tarbawi), yang berusaha membina setiap orang yang datang kepadanya sehingga ia, dan mereka, terjauh dari dosa besar, dan karenanya berakhlak mulia di tengah-tengah masyarakat. Apabila dikatakan bahwa ‘ Si Fulan sudah bergabung dengan sebuah organisasi dakwah’ maka hal itu bukan berarti bahwa iman si Fulan sudah sempurna atau ia telah menguasai semua cabang ilmu. Bukan demikian. Akan tetapi ketika kami menyebutnya sebagai seorang ‘bergabung dengan organisasi dakwah’, maka yang kami maksud adalah bahwa ia telah rela dibina oleh para da’i, dan ia sedang berusaha untuk memulai dan menata hidupnya secara benar.”

Syaikh Ar Rasyid melanjutkan.

“Oleh karena itu, para pengikut, bahkan para pemimpin, berbeda-beda dalam hal kualitas iman dan pemahaman syariatnya. Di antara mereka terdapat pemula yang terkadang salah. Ada yang pertengahan, dan ada pula yang sudah mantap keilmuannya serta amaliahnya sehingga pribadinya mengharumkan nama dakwah ini. Senioritas bukanlah penentu utama dalam hal ini. Akan tetapi yang menjadi pembeda dari para da’i itu adalah potensi positif mereka seperti kemampuan mengemban amanah, keteguhan jiwa, kesabaran, kecerdasan, dan keberanian. Sangat mungkin Anda akan menemui seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dakwah, namun ia tetap berada pada tingkat pemula apabila ia tidak memiliki sifat-sifat mulia. Sehingga ia bisa saja melakukan kesalahan baik dalam tindakan, perkataan, maupun dalam tulisan-tulisannya.”

Bagaimana? Sudahkah Anda tersentak dan tergerak oleh nasihat bertenaga di atas?

Lihat Juga

wasiat-imam-hasan-al-banna

Inilah Sepenggal Wasiat Imam Hasan Al Banna

sangMURABBI.com – Selama sepekan terakhir ini, saya tergerak, entah oleh apa, untuk kembali membuka buku-buku ...

Tinggalkan Balasan