Minggu , 20 Agustus 2017
Home / Dakwah / Cobaan Perlu Ketegaran Jiwa

Cobaan Perlu Ketegaran Jiwa

ketegaranSangMURABBI.com – Saudaraku…

Terkadang kita hanya bisa menyaksikan saudara muslim di Uighur (belum lama ini), Mesir-Palestina-Pakistan-Afghan-Irak (sampai saat ini) dan fenomena di belahan dunia lainnya (saat ini di Eropa dll).

Bagaimana rezim sekuleris saat ini hidup enak dan mewah, terlindungi, dan kuat?
Bagaimana algojo tertawa-tawa dan bercanda setiap pagi dan sore?

Pada saat yang sama, mereka menempatkan aktivis Islam (umat Islam) di depan mereka seperti hewan sembelihan, di intimidasi, dihina, dicaci dan hanya bisa menjerit akibat penyiksaan, hingga mereka tak sadarkan diri. Seakan-akan aktivis itu agar terus diselimuti oleh kesengsaraan dan penderitaan.

Itu pikiran2 jahat setan, yang sengaja dimunculkan saat sulit. Itu obrolan jiwa, yang menyuruh kepada keburukan, saat menegangkan itu. Itulah yg diinginkan mereka, agar para aktivis dakwah senantiasa lari dari aktivitasnya, dan lemah semangatnya.

Pikiran2 itu perlu dilawan, cobaan memang memerlukan ketegaran.

Saudaraku…

Setiap kita harus berkata kepada diri sendiri, ”Jika Allah berkehendak mengambil hamba-hamba-Nya sebagai syuhada, bagaimana Dia tidak menciptakan orang-orang yg menggunakan tangan mereka untuk membunuh kaum mukminin? Bukankah syahidnya Umar bin Khaththab Ra. Harus ada Abu Lu’lu’ah? Demi syahidnya Ali bin Abi Thalib Ra harus ada Abu Muljam? Demi syahidnya Sumaiyah Ra. perlu ada Abu Jahal?

Hendaknya kita ingat firman Allah Ta’ala:

”Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah dosa mereka.” (3:178)

dan firman Allah:

”Nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur2 (ke arah kebinasaan) dari arah yg tidak mereka ketahui. Dan aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Al Qalam: 44-45)

Kita harus berkata kepada diri kita sendiri seperti dikatakan Ibnu Al Jauzi, ”Orang mukmin itu seperti buruh dan masa kerja itu tidak lama. Orang yang bekerja di tanah tidak boleh mengenakan baju putih. Ia harus bersabar beberapa waktu. Jika pekerjaannya selesai, ia baru mengenakan pakaiannya yang paling bagus. Siapa berleha-leha waktu kerja, ia menyesal saat pembagian gaji dan dihukum karena lamban mengerjakan tugasnya.”

Kita juga perlu berkata kepada diri sendiri, ”Silakan orang-orang mengambil dunia dan cukuplah akhirat bagiku.”

Dunia itu perhiasan yg tidak bertahan lama dan tidak sebanding dengan satu sayap nyamuk di sisi Allah Ta’ala. Kita juga harus mengulang2 dengan hati dan lidah kita sebagaimana perkataan ahli sihir – saat iman bergemuruh di hati mereka – kepada Fir’aun ketika itu dan Fir’aun2 lain di setiap zaman, sebgaimana firman Allah:

”Maka putuskan apa yg hendak kamu putuskan, sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan di kehidupan dunia ini saja.” (Thaha:72)

Kita juga mesti ingat bahwa walau para tirani mengancam dan mengintimidasi kaum Muslimin, namun kehinaan maksiat dan duka selalu menyelimuti mereka. Al Hasan Al Bashri berkata, ”Meski mereka menguasai baghlah (peranakan kuda dgn keledai) dan kuda, namun kehinaan kemaksiatan terlihat jelas di wajah mereka. Allah berkehendak menghinakan siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya.” (Diriwayatkan Abu Nu’aim di Al Hilyah dan disebutkan Ibnu Katsir di Al Bidayah wa An-Nihayah)

Makna-makna ini dirasakan dan diketahui dengan baik oleh orang2 yang beriman, orang2 shalih, dan orang2 yg kenal Tuhan mereka dengan baik. Mereka tahu usia mereka dan usia para tirani tidak lama lagi berakhir, tahapan perjalanan akan selesai, dan para musafir terus berjalan dengan cepat.

Wa Allahu A’lam.

Lihat Juga

anis-matta

Ada Orang Lain di Tengah-Tengah Kita

sangMURABBI.com – Fajar belum menyingsing ketika itu. Tiga orang laki-laki melangkah gagah menggapai takdir mereka. ...

Tinggalkan Balasan